Bapak Kiai Seminar
Disuatu Pesantren di Jawa Timur diadakan seminar dengan pembicara KH. Sahal Mahfudz, Pati. Acara tersebut diumumkan di masjid – masjid dan surau – surau disekitar Pesantren. Setiap habis shalat jum’at diumumkan, ”Hadirilah seminar oleh KH. Sahal Mahfudz dari Pati.
Pada hari yang ditentukan, banyak santri dan masyarakat berbondong – bondong menghadiri seminar. Maklum di daerah tersebut belum pernah diadakan seminar. Bahkan kata seminar pun baru kali ini mereka dengar. Saat seminar selesai, Kiai Sahal langsung pamit pulang karena ada acara lain. Sebagaimana biasa para santri berebut jabat tangan.
Karena ada suatu kepentingan, kiai pengasuh Pondok Pesantren tempat terselenggaranya seminar terlambat hadir, sehingga kiai Sahal belum sempat menemuinya. Setelah Kiai Sahal pulang, baru beliau datang, kemudian bertanya kepada para santri, ”Bagaimana seminarnya?” Mendengar pertanyaan tersebut dengan penuh tawadlu’ dan percaya diri sang santri menjawab, “Seminarnya sudah kundur (pulang), Kiai dan sudah kami antarkan.”
Akhirat Dalam Berita
Kiai Yasin dari Jatim memang terkenal kiai yang cerdik dan komunikatif dalam melakukan dakwah dan menarik perhatian massa. Oleh karenanya, wajar saja bila beliau banyak mendapat tempat di hati masyarakat.
Pernah pada suatu pengajian umum masyarakat kurang antusias mengikuti. Mereka asyik nonton TV, sehingga sedikit sekali yang datang mendengarkan pengajian umum.
Melihat kondisi seperti ini, dengan penuh semangat, Kiai Yasin mencoba melakukan diplomasi sederhana untuk menarik minat masyarakat.. “Poro rawuh, monggo pengajian dalu puniko enggal kito wiwiti (para hadirin, mari pengajian malam ini kita mulai).”
Kemudian beliau meneruskan, “Pada malam ini kita akan berbicara masalah hubungan dunia dan akhirat. ”Antara hubungan keduanya tidak dapat dipisahkan harus dipadukan secara utuh dan seimbang. Namun orang sekarang tampaknya punya kecenderungan mengejar dunia dan melupakan akhirat.”
Meski sudah dimulai beberapa saat, orang-orang belum juga antusias. Dengan tinggi Kiai Yasin melanjutkan butir – butir hikmah pengajian. “Sebagaimana bukti bahwa orang sekarang mencintai dunia adalah mereka lebih suka nonton TV dari pada ikut pengajian. TV itu kan urusan dunia.Wong, yang dibahas hanya dunia dalam berita, kok. Padahal pengajian itu akhirat dalam berita. Kalau pingin dapat keduanya, ya, dengar TV dan dengar pengajian. Dunia dalam berita di pengajian mendengarkan akhirat dalam berita.”
Mendengar ceramah Kiai Yasin ini, orang orang pada senyum – senyum sambil berangkat ke pengajian. Kiat sukses berdiplomasi menghadapi masyarakat.
Tips tips menghafal pelajaran dan menghafal Al Qur’an
Oleh: Ali Anshori*)
Hafalan adalah musuh atau rival.
Memories is enemy.
Bagi setiap pelajar yang belajar di sekolah formal maupun yang belajar di sekolah non formal. Yang namanya hafalan, kebanyakan membuat murid itu malas maupun jengkel. Tapi mulai sekarang ada tidak usah bingung soal hafalan. Aku punya tips –tips agar hafalan bisa mudah dan cepat hafal dan tidak mudah lupa:
1. Hafalan itu harus istiqomah, maksudnya kita harus bisa membagi waktu. Kita harus menentukan kapan waktunya hafalan, belajar, main dan semua kegiatan yang akan kita lakukan, biar tidak semrawut.
2. Baca pelajaran yang di hafal sebelum dan sesudah tidur. Soalnya dengan sering membaca berulang-ulang akan membuat kita cepat hafal dan tidak mudah lupa.
3. Menghafal di pagi hari, karena di pagi hari pikiran kita masih jernih dan masih fresh untuk menghafal.
4. Lakukan hafalan dengan santai, jangan merasa tertekan harus ikhlas, soalnya ikhlas merupakan kunci keberhasilan abadi.
5. Cari tempat yang bisa buat kamu bisa konsentrasi, soalnya dengan konsentrasi akan cepat hafal.
6. Kamu harus suka tidak boleh ada kata benci, bawalah catatan kecil kemanapun mau pergi.
*Murid Madrasah Aliyah Unggulan Darul Falah Jerukmacan Sawo Jetis Mojokerto
Kamis, 02 September 2010
Senin, 30 Agustus 2010
KENANGAN NYERI
Oleh: A. Husni Mubarok
Hari sudah menjelang maghrib. Sepuluh menit lagi adzan akan menggema, menarik sekelompok manusia untuk menunaikan kewajibannya, menyembah Allah. Aku ingin segera beranjak dari tepi laut, bergegas pulang dan bersiap – siap menuju masjid. Rasa lelah bercampur sejuk setelah menyaksikan matahari terbenam terasa menyerang. Tetapi Fariha masih ingin terus bercengkerama. Sambil menikmati jus anggur dalam gelas berlukiskan bunga. lalu Aku menolak untuk meneruskannya karena lima menit lagi gema suara adzan akan menyebar ke pelosok jalan Karangasem Denpasar Bali. Akhirnya ia mengikutiku pulang.
Matanya yang indah menyinari langit. Rambutnya yang tertata lurus semilir diterpa angin. Ia tidak hanya menarik dan menyenangkan. Perempuan asal Bali itu juga tergolong cerdas dan enak diajak musyawaroh. Setelah komat – kamit wiridan sholat maghrib aku pulang. Hampir beberapa langkah dari rumah Fariha menghampiriku. Ia masih ingin bercakap – cakap denganku. Aku menurutinya. ia mengajakku ke restoran di jalan Karangasem Denpasar bersama adik tercintaku, panggil saja Amin. Fariha memilih tempat itu karena letaknya strategis, terletak di atas gedung lantai empat di pusat kota. Dari restoran itu kami bisa menyaksikan keindahan bintang dan leluasa memandang bulan yang bertengger di atas langit.
Fariha menikmati jus anggur kesukaannya. Dan kami sudah cukup lama berbicara seputar perkuliahan. Kini aku lihat fariha mulai terdiam. Sedih dan sesal seperti menyelimuti wajahnya. Mirip dengan yang aku lihat tadi sore. Ketika aku tanya Fariha mengatakan bahwa sesal dan sedih yang aku baca dari raut wajahnya adalah peristiwa yang menyakitkan baginya.
“Ceritakanlah apa yang membautmu bersedih. Aku akan mendengarnya dengan seksama.” Ungkapku padanya.
Fariha belum mengungkap kata – kata padaku. Adzan Isya’ mengalun merdu sejam yang lalu. Perlahan lalu dia berkata. Aku mendengarkan dengan rasa penasaran.
“Sekitar pukul delapan malam setahun yang lalu ketika aku dan Nisa’ teman akrabku sedang menikamti masakan restoran ini, suasana sudah mulai ramai dan penuh dengan pengunjung. Terlihat dari pintu masuk seseorang yang akan menjadi pendamping hidupku, Andhika. Sedang asyik bergandengan tangan dengan perempuan lain sambil menuju meja makan yang hanya berjarak sekitar tujuh meter dari tempat aku duduk. Tanpa sadar bahwa aku sedang berada di belakangnya. Sampai aku bertanya – tanya dalam hati, apa ini benar?” Fariha terdiam sambil mengambil nafas dalam – dalam. Matanya berkaca – kaca. Kesdihan tampak jelas di raut mukanya.
“Kau tahu apa yang terjadi selanjutnya, ketika Andhika masih asyik bercengkerama dengan perempuan selingkuhannya?” Dia menatapku tajam.
Aku menggelengkan kepala lalu berucap, “Apa yang terjadi selanjutnya?” Fariha meneruskan ceritanya.
“Beberapa menit telah aku lalui. Aku berdiri beranjak menuju ke meja Andhika. Meninggalkan Nisa’ yang sedang ditelphon kekasihnya. Tanpa peduli banyak orang. Aku menepuk pundaknya lalu tanganku bergerak meluncur menuju pipinya yang merona. Suara tamparan keras terdengar di seluruh tempat ini. Orang – orang memandang ke arahku dan Andhika. Dia berdiri menatapku. Aku berkata bahwa tunangan kita batal. Aku tidak akan menikah dengan orang yang suka berselingkuh dengan perempuan lain. Setelah itu aku berlari meninggalkannya bersama tetesan air mata yang tampak jelas. Aku menarik tangan Nisa’, mengajaknya keluar dari tempat ini.”
“Ya, sudahlah Far! yang sudah terjadi biarlah berlalu. Suatu hari kau akan menemukan pendamping hidup yang tepat.” Aku berusaha menenangkan hatinya.
Matanya masih menyimpan hampa. Cincin yang Andhika berikan sebelum tunangan telah dia buang di laut beberapa bulan lalu. Karena hal itu akan membuatnya bertambah perih dan luka. Tetapi Fariha masih terlihat seperti terus memendam kegelisahan. Aku menghiburnya perlahan dan membantunya menghilangkan kenangan pahit yang dia rasakan. Akhirnya, Fariha terlihat agak mendingan.
Lalu kami setuju untuk pulang. Meninggalkan restoran yang masih diliputi musik jazz. Aku mengantarnya pulang. Kami berpisah menjelang jam setengah sembilan. Aku berjalan santai sambil menggendong adikku yang mengantuk. Sampai di rumah. Aku meletakkan adikku yang telah tertidur. Lalu menuju kamarku. Aku merebahkan badan. Sejenak kemudian terbayang wajah Fariha tetapi sekilas. Aku menguap. Mata tersayup – sayup, terpejam lalu pandangan gelap.
Jerukmacan, 13 Mei 2010
Hari sudah menjelang maghrib. Sepuluh menit lagi adzan akan menggema, menarik sekelompok manusia untuk menunaikan kewajibannya, menyembah Allah. Aku ingin segera beranjak dari tepi laut, bergegas pulang dan bersiap – siap menuju masjid. Rasa lelah bercampur sejuk setelah menyaksikan matahari terbenam terasa menyerang. Tetapi Fariha masih ingin terus bercengkerama. Sambil menikmati jus anggur dalam gelas berlukiskan bunga. lalu Aku menolak untuk meneruskannya karena lima menit lagi gema suara adzan akan menyebar ke pelosok jalan Karangasem Denpasar Bali. Akhirnya ia mengikutiku pulang.
Matanya yang indah menyinari langit. Rambutnya yang tertata lurus semilir diterpa angin. Ia tidak hanya menarik dan menyenangkan. Perempuan asal Bali itu juga tergolong cerdas dan enak diajak musyawaroh. Setelah komat – kamit wiridan sholat maghrib aku pulang. Hampir beberapa langkah dari rumah Fariha menghampiriku. Ia masih ingin bercakap – cakap denganku. Aku menurutinya. ia mengajakku ke restoran di jalan Karangasem Denpasar bersama adik tercintaku, panggil saja Amin. Fariha memilih tempat itu karena letaknya strategis, terletak di atas gedung lantai empat di pusat kota. Dari restoran itu kami bisa menyaksikan keindahan bintang dan leluasa memandang bulan yang bertengger di atas langit.
Fariha menikmati jus anggur kesukaannya. Dan kami sudah cukup lama berbicara seputar perkuliahan. Kini aku lihat fariha mulai terdiam. Sedih dan sesal seperti menyelimuti wajahnya. Mirip dengan yang aku lihat tadi sore. Ketika aku tanya Fariha mengatakan bahwa sesal dan sedih yang aku baca dari raut wajahnya adalah peristiwa yang menyakitkan baginya.
“Ceritakanlah apa yang membautmu bersedih. Aku akan mendengarnya dengan seksama.” Ungkapku padanya.
Fariha belum mengungkap kata – kata padaku. Adzan Isya’ mengalun merdu sejam yang lalu. Perlahan lalu dia berkata. Aku mendengarkan dengan rasa penasaran.
“Sekitar pukul delapan malam setahun yang lalu ketika aku dan Nisa’ teman akrabku sedang menikamti masakan restoran ini, suasana sudah mulai ramai dan penuh dengan pengunjung. Terlihat dari pintu masuk seseorang yang akan menjadi pendamping hidupku, Andhika. Sedang asyik bergandengan tangan dengan perempuan lain sambil menuju meja makan yang hanya berjarak sekitar tujuh meter dari tempat aku duduk. Tanpa sadar bahwa aku sedang berada di belakangnya. Sampai aku bertanya – tanya dalam hati, apa ini benar?” Fariha terdiam sambil mengambil nafas dalam – dalam. Matanya berkaca – kaca. Kesdihan tampak jelas di raut mukanya.
“Kau tahu apa yang terjadi selanjutnya, ketika Andhika masih asyik bercengkerama dengan perempuan selingkuhannya?” Dia menatapku tajam.
Aku menggelengkan kepala lalu berucap, “Apa yang terjadi selanjutnya?” Fariha meneruskan ceritanya.
“Beberapa menit telah aku lalui. Aku berdiri beranjak menuju ke meja Andhika. Meninggalkan Nisa’ yang sedang ditelphon kekasihnya. Tanpa peduli banyak orang. Aku menepuk pundaknya lalu tanganku bergerak meluncur menuju pipinya yang merona. Suara tamparan keras terdengar di seluruh tempat ini. Orang – orang memandang ke arahku dan Andhika. Dia berdiri menatapku. Aku berkata bahwa tunangan kita batal. Aku tidak akan menikah dengan orang yang suka berselingkuh dengan perempuan lain. Setelah itu aku berlari meninggalkannya bersama tetesan air mata yang tampak jelas. Aku menarik tangan Nisa’, mengajaknya keluar dari tempat ini.”
“Ya, sudahlah Far! yang sudah terjadi biarlah berlalu. Suatu hari kau akan menemukan pendamping hidup yang tepat.” Aku berusaha menenangkan hatinya.
Matanya masih menyimpan hampa. Cincin yang Andhika berikan sebelum tunangan telah dia buang di laut beberapa bulan lalu. Karena hal itu akan membuatnya bertambah perih dan luka. Tetapi Fariha masih terlihat seperti terus memendam kegelisahan. Aku menghiburnya perlahan dan membantunya menghilangkan kenangan pahit yang dia rasakan. Akhirnya, Fariha terlihat agak mendingan.
Lalu kami setuju untuk pulang. Meninggalkan restoran yang masih diliputi musik jazz. Aku mengantarnya pulang. Kami berpisah menjelang jam setengah sembilan. Aku berjalan santai sambil menggendong adikku yang mengantuk. Sampai di rumah. Aku meletakkan adikku yang telah tertidur. Lalu menuju kamarku. Aku merebahkan badan. Sejenak kemudian terbayang wajah Fariha tetapi sekilas. Aku menguap. Mata tersayup – sayup, terpejam lalu pandangan gelap.
Jerukmacan, 13 Mei 2010
Rabu, 07 Oktober 2009
PROFIL
A. KHUSNI MUBAROK adalah sosok laki-laki yang mempunyai segudang cerita dalam hidupnhya. ia yang sering dipanggil khusni terlihat biasa-biasa saja, tetapi dibalik semua itu ia dapat menenggelamkan dunia lho!.sebab ia amat pandai dalam hal apapun yang teman-temannya lakukan. walaupun begitu, khusni sering mengalami kesulitan dalam hal keilmuan tentang kepengarangan dan kepenulisan sampai saat ini.
“ saya kalau ditanya pelajaran apa yang paling sulit!, maka saya akan menjawab dengan tegas kalau pelajaran yang paling sulit adalah kepenulisan atau kepengarangan, sebab sangat sulit bagi saya mengarang sesuatu. walupun guruku sering menasehatiku dalam bentuk apapun.” ujar lelaki muda anak dari bapak M. MUSTOFA.
khusni yang lulusan TK roudhotul atfal dan kemudian melanjutkan MI, Mts roudhotun nasyi’in, kini melanjutkan dipondok pesantren DARUL FALAH jerukmacan, sawo, jetis, mojokerto yang tak jauh dari tempat tinggalnya berat kulon, kemlagi, mojokerto. Namun, ia tidak hanya mondok, melainkan melanjutkan sekolah menegah atas yaitu Madrasah Aliyah Unggulan Darul Falah sawo, jetis, mojokerto. menurutnya; sekolahan MAU ini memang amat unggul, sebab muatan pelajarannya amat tinggi. selain pelajaran agama yang banyak dan ilmu umum yang pada umumnya. sekolahan ini juga memiliki keunggulan salah satunya dalam bidang kepenulisan dan kepengarangan yang belum tentu sekolahan lain ada. oleh karena itu ia amat kelabakan jika betemu dengan namanya mengarang kedalam tulisan.
leleki muda ini yang yang merupakan anak bungsu dari lima bersaudara, merupakan anak yang masih duduk dibangku sekolah diantara kakaknya yang sudah dewasa bahkan sudah ada yang berkeluarga. ia terkenal sebagai lelaki yang aneh, sebab ia amat alergi dengan bandeng. kalau biasanya teman-temannya makan ikan bandeng ia pasti mengkre sebab menurutnya ikan bandeng baunya amat gak enak, apalagi dagingnya. namun yang paling unik ialah takut bergaul dengan anak perempuan sampai-sampai teman perempuannya semasa Mts dulu. ia dengan teman perempuan sekelasnya saja tak pernah ia dekatin, bahkan anak perempuan dalam kelasnyapun ia tidak begitu kenal. namun kini ia ingin mencoba menjadi lebih terbuka tarhadap siapapun termasuk wanita. ia juga ingin dapat menjadi seperti temannya yang sering menjuarai pelombaan dari tingkat bawah hinggah tingkat atasdan iya juga mempunyai keinginan yang tinggi yaitu agar dapat kuliah sampai keluar negri. “amin“
Disusun Oleh; Hilal Muzakki
“ saya kalau ditanya pelajaran apa yang paling sulit!, maka saya akan menjawab dengan tegas kalau pelajaran yang paling sulit adalah kepenulisan atau kepengarangan, sebab sangat sulit bagi saya mengarang sesuatu. walupun guruku sering menasehatiku dalam bentuk apapun.” ujar lelaki muda anak dari bapak M. MUSTOFA.
khusni yang lulusan TK roudhotul atfal dan kemudian melanjutkan MI, Mts roudhotun nasyi’in, kini melanjutkan dipondok pesantren DARUL FALAH jerukmacan, sawo, jetis, mojokerto yang tak jauh dari tempat tinggalnya berat kulon, kemlagi, mojokerto. Namun, ia tidak hanya mondok, melainkan melanjutkan sekolah menegah atas yaitu Madrasah Aliyah Unggulan Darul Falah sawo, jetis, mojokerto. menurutnya; sekolahan MAU ini memang amat unggul, sebab muatan pelajarannya amat tinggi. selain pelajaran agama yang banyak dan ilmu umum yang pada umumnya. sekolahan ini juga memiliki keunggulan salah satunya dalam bidang kepenulisan dan kepengarangan yang belum tentu sekolahan lain ada. oleh karena itu ia amat kelabakan jika betemu dengan namanya mengarang kedalam tulisan.
leleki muda ini yang yang merupakan anak bungsu dari lima bersaudara, merupakan anak yang masih duduk dibangku sekolah diantara kakaknya yang sudah dewasa bahkan sudah ada yang berkeluarga. ia terkenal sebagai lelaki yang aneh, sebab ia amat alergi dengan bandeng. kalau biasanya teman-temannya makan ikan bandeng ia pasti mengkre sebab menurutnya ikan bandeng baunya amat gak enak, apalagi dagingnya. namun yang paling unik ialah takut bergaul dengan anak perempuan sampai-sampai teman perempuannya semasa Mts dulu. ia dengan teman perempuan sekelasnya saja tak pernah ia dekatin, bahkan anak perempuan dalam kelasnyapun ia tidak begitu kenal. namun kini ia ingin mencoba menjadi lebih terbuka tarhadap siapapun termasuk wanita. ia juga ingin dapat menjadi seperti temannya yang sering menjuarai pelombaan dari tingkat bawah hinggah tingkat atasdan iya juga mempunyai keinginan yang tinggi yaitu agar dapat kuliah sampai keluar negri. “amin“
Disusun Oleh; Hilal Muzakki
Langganan:
Entri (Atom)
.jpg)